Khabaruna, Prenduan - Suasana khidmat menyelimuti pelaksaan upacara memperingati Hari Santri pada Kamis, 22 Oktober 2026 / 10 Jumadil Awal 1448 H. Ratusan santri dengan seragam putih dan peci hitam berbaris rapi dalam Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2026 dengan tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas"
Upacara yang dipimpin langsung oleh Kepala MA Tahfidh Al-Amien Prenduan, Ust. Sidiq Mustakim, Lc, M.Pd, tersebut berlangsung penuh wibawa. Dalam amanatnya, Kepala Madrasah tidak hanya mengenang sejarah, tetapi memberikan motivasi mendalam untuk santri Marhalah Aliyah di Ma'had Tahfidh Al-Qur'an Al-Amien Prenduan.
Beliau membuka dengan mengingatkan sejarah Resolusi Jihad:
"Tahun 1945, Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa keramat: "Membela tanah air dari penjajah hukumnya Fardhu Ain." Dari fatwa seorang santri itulah bangsa ini tetap merdeka. Maka jangan pernah minder jadi santri. Kalian adalah pewaris darah pejuang itu."
Selanjutnya, beliau menyampaikan 3 Bekal Emas untuk Santri MA Tahfidh Al-Amien:
1. Kalian Adalah Orang Pilihan Allah
Mengutip QS. Al-Mujadalah ayat 11, "Yarfa'illahul ladzina aamanu minkum walladzina uutul 'ilma darojaat" - Allah akan meninggikan orang beriman dan berilmu beberapa derajat." Ayat ini turun untuk kalian, para pencari ilmu. Derajat kalian sudah ditinggikan Allah bahkan sebelum manusia menghargai kalian," tegasnya.
2. Lelahmu Hari Ini Adalah Mahkota Orang Tuamu di Surga
Menyentuh sisi perjuangan menghafal, beliau mengutip hadits "Khoirukum man ta'allamal Qur'ana wa 'allamahu" - Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an. Beliau mengisahkan kegigihan Imam Syafi'i yang hafal Qur'an umur 7 tahun dan menulis hadits di atas tulang unta karena keterbatasan.
"Setiap huruf yang kalian ulang, setiap ayat yang kalian tahan kantuk untuk menjaganya, Allah hitung sebagai jihad. Kelak orang tua penghafal Qur'an akan dipakaikan mahkota yang cahayanya lebih terang dari cahaya matahari," pesannya, membuat suasana hening haru.
3. Adab Sebelum Ilmu
Menjadi penutup yang paling ditekankan. Mengutip dawuh Abdullah bin Mubarak, "Ta'allamnal adaba tsalatsina sanah, wa ta'allamnal 'ilma 'isyrina sanah" - Kami belajar adab 30 tahun, dan belajar ilmu 20 tahun.
Kisah Imam Syafi'i yang tidak berani membalik halaman kitab dengan keras di depan Imam Malik karena adab, menjadi teladan. "Percuma hafal 30 juz kalau berani membentak guru. Ilmu tanpa adab akan menjadi bencana."
Beliau menutup pidato dengan visi masa depan santri, mencontohkan Abdurrahman bin Auf yang hafidz, alim, tapi juga pengusaha terkaya. "Keluar dari Al-Amien ini, kalian harus Hafidz 30 Juz, tapi juga jago bahasa Inggris, jago teknologi, siap memimpin dunia. Kalian bukan santri kemarin sore. Kalian adalah santri hari ini, dan penjaga peradaban esok hari."
Upacara ditutup dengan doa bersama untuk kejayaan pesantren dan bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar